​Mahasiswa UK Petra Ubah Limbah Marmer Jadi Beton



Sebarkan :


Views: 13

Surabaya-Memanfaatkan hasil limbah pemotongan marmer untuk bahan pembuatan beton. Itulah ide tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra). Ia adalah Stella Patricia Angdiarto, Favian Sebastiano dan Gho Danny Wahyudi yang menciptakan inovasi ini dan dituangkan dalam sebuah kompetisi Civil Week 2017 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Mereka mencoba menggantikan pasir dengan limbah marmer. Dengan takaran 30 persennya limbah marmer dinilai mampu mengasilkan beton dengan kualitas bangus. Pada saat semifinal uji kekuatan beton ini mencapai 14,474 MPa.Sedangkan pada saat final mencapai 10 MPa. “Meskipun demikian hasil kami masih lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya,” urai Favian, Selasa (14/11/2017)

Dalam kompetisi ini, lanjut dian, para peserta diminta untuk membuat beton yang bernilai ekonomis, ramah lingkungan serta tidak mengabaikan aspek atau nilai sosial. Dimana harus menekankan terobosan baru dalam pemilihan materialnya dalam waktu satu hari bersifat Self Compacting Concrete atau beton yang dapat memadat sendiri. “Jadi dalam waktu satu hari itu beton tersebut padat sendiri,” terangnya.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat beton yang baik biasanya terdiri dari semen, kerikil, pasir dan air. Akan tetapi Stella dan tim mencoba memikirkan hal yang baru. Akhirnya inovasi yang dipilih oleh ‘Tim Selanjutnya’ adalah dengan menggantikan pasir dengan limbah marmer. Limbah marmer ini memiliki tekstur serbuk halus yang mirip dengan semen. Sehingga limbah marmer bisa mensubstitusi pasir hingga 30 persen.

Menurut Stella, manfaatnya dari penggunaan limbah marmer ini tidak mengeruk atau menggunakan Sumber Daya Alam. Akan tetapi memanfaatkan limbah dari pemotongan marmer yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu, beton yang dihasilkan semakin padat karena sifat dari limbah marmer yang halus sehingga mampu mengisi rongga-rongga.“Kami terinspirasi dari kakak kelas yang mempresentasikan tentang keuntungan dari material limbah marmer. Akhirnya kami melakukan studi literatur mengenai limbah marmer kemudian mulai melakukan percobaan untuk menemukan kadar yang pas dan optimum,” tambah Stella Patricia Angdiarto.

Pada awalnya, Stella dan tim harus melewati proses babak kualifikasi terlebih dahulu dengan mengirimkan ke panitia proposal mengenai ide beton yang akan dipakai, pembuatan dan pengujian hasil betonnya dengan video di kampus masing-masing. Setelah proses seleksi ini selesai maka diumumkan para finalisnya, terpilih 6 peserta dari 39 peserta mahasiswa dari 23 universitas yang berbeda di seluruh Indonesia. Keenam finalis tersebut adalah satu finalis dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dua finalis dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, satu finalis dari Institut Teknologi Bandung, satu finalis dari Universitas Tunas Pembangunan Surakarta dan satu dari Universitas Kristen Petra Surabaya.

Babak final diisi dengan demo pembuatan beton, pengujian beton satu hari, dan presentasi. Demo pembuatan beton dilakukan dalam waktu 75 menit, semua bahan dan alat telah disiapkan kecuali bahan inovasi seperti limbah marmer harus dibawa masing-masing oleh kelompok.“Kesulitan dalam kompetisi ini karena bahan mempengaruhi hasil dari kekuatan beton itu sendiri maka tak heran hasil yang kami buat saat di Solo berbeda dengan yang kami buat saat di Surabaya. Dengan waktu yang tak banyak, bahan yang disediakan kurang bersih dan tekstur pasir yang disediakan pun ternyata lebih menyerap air. Tapi kami bersyukur, kami masih mampu memberikan yang terbaik dalam kompetisi ini,” tutup Danny.

Tak sia-sia usaha mereka, Shella dan tim berhasil menyabet juara 1 dalam kompetisi Civil Week 2017 yang diadakan oleh Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Mereka berhasil membawa pulang trophy, sertifikat dan uang sebesar Rp. 7.500.000,- pada tanggal 4 November 2017 yang lalu. 

Tags: