Temuan Baru, Antartika Meleleh Meningkat Tiga Kali Lipat



Sebarkan :


Views: 26

Kondisi Antartika makin merisaukan saja. Menurut data terakhir, mencairnya es di permukaan benua seluas gabungan Amerika Serikat dan Meksiko itu meningkat tiga kali lipat.

Padahal, antara 60 hingga 90 persen dari air tawar dunia membeku di lapisan es Antartika. Jika semua es itu mencair, itu akan cukup untuk menaikkan permukaan laut dunia sekitar 200 kaki (60,96 meter).

Memang tidak akan terjadi dalam semalam, Antartika memang mencair, dan sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (13/6) di jurnal Nature menunjukkan bahwa peleburan semakin cepat. Disebutkan, benua itu akan menyumbang 6 inci (15 cm) naiknya permukaan laut pada tahun 2100.

Seorang profesor dari University of Leeds dan penulis utama dari penelitian itu, Andrew Shepherd, memberi contoh, "di sekitar Brooklyn terjadi banjir sekali dalam setahun, tetapi jika permukaan laut naik 15 cm maka itu akan terjadi 20 kali dalam setahun."

Bahkan dalam kondisi biasa, pemandangan Antartika terus berubah seperti musim salju, salju turun dan es mencair di permukaan, membentuk sinkholes glasial yang dikenal sebagai moulin.

Tetapi yang menjadi perhatian para ilmuwan adalah keseimbangan berapa banyak salju dan es yang terakumulasi dalam tahun tertentu versus jumlah yang hilang.

Antara 1992 dan 2017, Antartika menumpahkan tiga triliun ton es yang menyebabkan peningkatan permukaan laut sekitar tiga per sepuluh inci, yang sepertinya tidak terlalu banyak.

Tetapi 40 persen peningkatan itu berasal dari lima tahun terakhir yaitu periode penelitian 2012-2017.

Antartika bukan satu-satunya penyumbang kenaikan permukaan laut. Greenland kehilangan sekitar 1 triliun ton es antara tahun 2011 dan 2014. Dan karena lautan hangat, perairan di sana berkembang dan menempati lebih banyak ruang, juga meningkatkan permukaan laut. Es yang mencair dan air yang memanas semuanya didorong oleh emisi gas-gas rumah kaca.

Studi ini juga membantu memperjelas perbedaan regional di Antartika. Antarktika Barat dan Semenanjung Antartika, yang mencapai ke arah Amerika Selatan, telah lama diketahui kehilangan es.

Di Timur Antartika gambarnya telah kacau karena massa lapisan es yang bertambah sebagai akibat berkurangnya massa dari tempat lain. Itulah sebabnya Antartika Timur terkadang menjadi fokus perhatian bagi orang-orang yang mengingkari ilmu pemanasan global.

"Banyak argumen telah dibuat dari para pemangku kepentingan yang tidak begitu tertarik dalam menangani perubahan iklim, bahwa lapisan es Antartika Timur sebenarnya mendapatkan massa - oleh karena itu kita tidak perlu khawatir," kata Michele Koppes, ahli glasiologi dari Universitas British Columbia yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Koppes menambahkan, Antartika Timur yang membentuk dua pertiga benua itu merupakan wilayah terpencil dari lokasi yang memang sudah terpencil, di mana data langka karena ada lebih sedikit stasiun pengukuran.

Para peneliti harus mengekstrapolasi jumlah data yang lebih kecil di area seluas Amerika Serikat itu, sehingga membuat analisis kurang tepat. Untuk mengatasi masalah-masalah dalam penelitian ini, lebih 80 peneliti dari seluruh dunia mengumpulkan data dari sekitar selusin pengukuran satelit yang berbeda sejak awal 1990-an.

Para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan di Antartika Timur tidak cukup untuk menebus kehilangan es di Antartika Barat dan Semenanjung Antartika. Kehilangan lapisan es di Antartika, seimbang dengan meningkatnya permukaan laut dunia.

Dr. Shepherd dan timnya menjalankan perhitungan serupa lima tahun lalu, menggunakan data 20 tahun, diketahui Antartika tampaknya kehilangan massa pada tingkat yang tetap. Mereka menemukan percepatan dalam tingkat kehilangan es ketika menghitungnya lagi dengan tambahan lima tahun data.

"Sekarang ketika kita melihat lagi, kita dapat melihat sebenarnya bahwa sinyal sangat berbeda dengan apa yang telah kita lihat sebelumnya," kata Dr. Shepherd. “Tingkat kenaikan permukaan laut akibat kehilangan es Antartika telah meningkat tiga kali lipat sejak 2012 saja.”

Kemajuan dalam satelit yang mengamati Bumi telah memungkinkan para peneliti lebih memahami daerah kutub. Banyak peneliti pernah mengira daerah kutub akan menambahkan es ketika iklim menghangat, karena suhu yang lebih hangat menyebabkan lebih banyak uap air di atmosfer, yang mengarah ke lebih banyak hujan, dan akan lebih banyak salju di kutub. Pengamatan langsung dari satelit membalikkan pandangan itu.

Dr Shepert mengakui sangat bergantung pada pengukuran satelit. Sebab, katanya, pengukuran satelit tidak hanya memberi gambaran bagaimana lembaran es merespon tetapi juga membuat perhitungan ini untuk kontribusi permukaan laut.

Pengamatan satelit juga menunjukkan penyebab hilangnya es di Antartika. “Studi ini menunjukkan bahwa kita benar-benar kehilangan lebih banyak massa di sepanjang tepi lapisan es, tempat lapisan es membuat kontak dengan lautan, dan bahwa lautan yang memanas mencairkan es,” kata Dr. Koppes.

Itulah sebabnya, es mencair dengan kecepatan yang jauh melebihi apa pun yang akan berubah di udara. “Dan ini adalah kekuatan yang tidak dapat Anda ubah dengan mudah.”

Sumber: BeritaSatu.com

Tags: